OLAH NAPAS,

CARA MUDAH USIR PENYAKIT

*** Ternyata, cuma dengan mengatur cara kita bernapas, beberapa jenis penyakit bisa disembuhkan. Tidak untuk tiap hari selama 24 jam, tapi cukup dua kali seminggu selama 1,5 jam. Bagaimana caranya? ***

Penyembuhan suatu penyakit sebenarnya tak harus dengan bantuan dokter. Pada tingkat keparahan tertentu ternyata bisa dengan olah napas. Umpamanya saja penyakit influenza, batuk, atau masuk angin. Tekanan darah rendah atau tinggi pun bisa dipulihkan bila kita secara rutin mau melakukan olah napas. Bahkan, ada orang yang mengalami kelumpuhan di separuh tubuhnya bisa membaik kondisinya setelah melakukan olah napas secara rutin.

Manfaat tadi bukan isapan jempol. Beberapa penyakit rutin macam flu, batuk, dan masuk angin bisa sembuh tanpa obat dan susah kambuh. Derajad kesehatan tubuh meningkat yang ditandai dengan meningkatnya kebugaran tubuh dan tenaga fisik. Stres hilang serta fisik dan mental lebih rileks. Lebih pede, sabar, tenang, mudah mengendalikan emosi, dan mudah berkonsentrasi. Tak ketinggalan, gairah seksual juga meningkat.

Beberapa kelebihan dan keuntungan juga bisa didapat dari penyembuhan dengan olah napas. Di antaranya, penyembuhan cara ini termasuk murah karena tidak mengeluarkan biaya apa pun, kecuali untuk mempelajarinya. Olah napas mudah dilakukan dan praktis. Gerakannya sederhana dan tidak mengutamakan kekuatan otot. Penggunaan obat tidak diperlukan, sehingga tidak ada efek sampingnya. Setelah sembuh pun manfaatnya masih bisa dirasakan, di antaranya kebugaran badan terjaga dan emosi bisa terkontrol.

Lumpuh pun membaik

Dengan olah napas, kita bisa menjadi “dokter” bagi diri sendiri. Kita akan tahu kapan harus melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan, misalnya kapan harus istirahat, memperhatikan bagian tubuh yang sakit, dll. Kita mengetahui kebutuhan tubuh kita sendiri. “Kalau memang harus ke dokter, kita juga tahu bahwa bantuan dokter memang sudah diperlukan. Olah napas tidak bisa berdiri sendiri.”

“Dengan mempraktikkan olah napas yang baik dan benar, sering dialami seseorang terutama untuk penyembuhan dari penyakit-penyakit ringan. Jadi olah napas bisa membantu seseorang dengan menaikkan derajat kesehatan, sehingga halangan berupa penyakit ringan dengan sendirinya terputus siklusnya. Soalnya, penyakit-penyakit ringan biasanya terjadi kalau kondisi fisik seseorang mulai menurun, sehingga kekebalan tubuhnya juga menurun. Penyakit itu bisa dilawan kalau kondisi fisik kita naik.”

Penyakit yang bisa dilawan pun bisa meningkat dengan meningkatnya kondisi tubuh melalui olah napas. Misalnya, dulunya seseorang cuma mampu melawan flu, pada tingkat selanjutnya bisa mengatasi tekanan darahnya, rendah atau pun tinggi. Pada orang lain, gangguan persendian tubuh juga bisa teratasi. Demikian pula dengan gangguan maag. “Yang sedikit luar biasa, ada yang sudah mengalami lumpuh separuh badannya akibat stroke, mengalami perkembangan sangat bagus setelah menjalani olah napas selama 6 bulan. Tangan dan kakinya yang semula tidak bisa digerakkan sudah mulai memiliki tenaga.”

Munculnya suatu penyakit sebenarnya merupakan manifestasi dari ketidakharmonisan kerja organ-organ tubuh kita serta ketidakselarasan kesatuan tubuh dan jiwa kita. Ketidakharmonisan dan ketidakselarasan tadi berawal dari pemaksaan terhadap tubuh kita untuk bekerja berlebihan. Akibatnya, sistem kerja tubuh menjadi tidak teratur. Inilah yang kemudian menimbulkan ketidakharmonisan dan ketidakselarasan tadi. Bila itu tidak disadari dan dirasakan, organ tubuh akan semakin lemah dan akhirnya rusak. Kekebalan tubuh juga tak berfungsi baik sehingga penyakit mudah menyusup.

Olah napas mampu membangun kembali harmoni dalam kehidupan fisik dan kejiwaan tadi secara simultan. Ketika olah napas dilakukan, volume napas dalam tubuh bisa dioptimalkan untuk memperkuat dan memperdayakan organ tubuh. Derajat kesehatan tubuh pun meningkat sehingga memiliki daya tahan terhadap gangguan penyakit. Dengan pertahanan yang kuat pula penyakit yang telah telanjur masuk bisa dikalahkan. Tubuh juga didisposisikan ke dalam keadaan rileks secara menyeluruh dan membawa keadaan jiwa terlepas dari ketegangan dan suasana negatif.

Tarik, tahan, dan buang

Olah napas bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang usia. Namun, idealnya memang untuk mereka yang sudah bekerja dan berkeluarga. Kira-kira usia 30 – 60 tahun.

Efek yang ditimbulkan olah napas berbeda dengan olah raga. Pada olah napas, ketika kita melakukannya memang terasa capek. Namun, setelah latihan justru kesegaran yang kita dapatkan dan tidak capek, baik fisik maupun mental. Sebaliknya, pada olah raga, terutama yang sifatnya permainan, setelah latihan selama 50 menit saja misalnya, capeknya sudah setengah mati.

Inti perbedaan tadi terletak pada adanya keteraturan. Pada olah napas, ada keteraturan napas, emosi, gerak. Pada olah raga mungkin ada keteraturan gerak, tapi emosi dan napasnya mungkin tidak teratur. Padahal, “Keteraturan emosi dan napas sangat berpengaruh terhadap kesegaran tubuh dan mental.”

Untuk bisa melakukan olah napas tidaklah terlalu sulit. Hanya saja, kita perlu belajar terlebih dahulu setidaknya dalam 32 kali pertemuan masing-masing selama 1,5 jam. Frekuensinya dua kali seminggu. Dalam latihan diajarkan 12 jurus yang fokusnya melatih jantung dan paru-paru. Masing-masing disertai dengan olah organ tubuh bagian atas (tangan, lengan, bahu, dada), bagian bawah (perut dan pinggang) dan bawah (pantat, paha, dan kaki). Olah organ tubuh ditujukan untuk memperkuat bagian tersebut. Setelah menguasai jurus-jurus tadi, kita bisa melakukannya sendiri dengan penekanan jurus tertentu untuk mendapatkan manfaat yang kita kehendaki.

Seperti halnya olah raga, dalam berolah napas kita memerlukan pemanasan. Tujuannya, untuk mempersiapkan tubuh memasuki bagian utama olah napas. Bentuk pemanasannya berupa pelenturan tubuh dari bagian atas sampai bawah dengan gerakan lembut atau diarahkan pada organ-organ tertentu yang hendak diperkuat. Ini perlu karena dalam olah napas, di samping konsentrasi, olah organ tubuh juga ikut dilibatkan. Dengan pemanasan diharapkan tubuh menjadi lebih lentur, lemas, dan bebas dari ketegangan. Waktunya, sekitar 15 menit saja.

Dalam bagian utama olah napas ada tiga proses yang dilalui, yakni menarik, menahan, dan membuang napas. Tujuannya untuk mengoptimalkan volume napas, menjaga keteraturan napas, dan mengelola napas secara efisien. Karena napas bisa diartikan sebagai daya hidup, maka dengan menarik napas kita mengambil daya hidup melalui hidung dan menghimpunnya di dalam tubuh. Kita tidak sekadar menghirup napas ala kadarnya, melainkan sebanyak-banyaknya. Bisa lima atau sepuluh kali lipat dari biasanya. Dengan demikian pasokan oksigen ke tubuh akan jauh lebih banyak dan maksimal.

Ketika napas kita tahan, daya hidup akan mengendap dan kita biarkan untuk merasuki seluruh tubuh. Penahanan napas yang terarah dan terkendali akan membantu mengaktifkan organ kita yang lemah, memperbaikinya, dan memberdayakannya sehingga bisa berfungsi dengan baik. Saluran energi yang tersumbat bisa terbuka kembali, aliran darah ke seluruh tubuh lebih lancar, metabolisme tubuh pun menjadi sempurna. Penahanan napas juga bermanfaat untuk melatih pengendalian diri atau emosi. Dalam proses menahan napas, kita perlu pula melakukan penegangan organ tertentu dan konsentrasi untuk membantu mengarahkan dan memusatkan energi pada organ tersebut.

Lama penahanan napas tergantung kemampuan kita, tetapi secara bertahap bisa ditingkatkan. Pemula biasanya diajari sekitar 15 detik. Setelah 4 bulan belajar, menahan napas selama 40 detik menjadi hal biasa. “Tidak bisa dipaksakan harus sekian detik, tetapi ditingkatkan secara gradual sesuai dengan irama hidup dan potensi masing-masing orang.”

Setelah kita tahan beberapa saat, “sisa” napas mesti kita buang sampai habis dengan bantuan pengecilan perut. Ini dimaksudkan agar menimbulkan kerinduan yang kuat pada diri kita untuk menariknya kembali. Pelepasannya bisa melalui mulut atau hidung. Dalam proses ini terdapat unsur pembersihan dan pelepasan. Kita melepas segala kotoran, emosi, stres, dan rasa sakit. Pelepasannya juga mesti dalam harmoni dengan gerakan tubuh dan ekspresi wajah, misalnya dengan tubuh terlihat gagah atau wajah tersenyum lembut penuh kedamaian.

Dalam semua proses olah napas tadi, kita melibatkan pula olah organ tubuh yang penekanannya pada penguatan tangan, bahu, dada, perut, pinggang, dan paha dengan dasar pengembangan napas dada. Dengan olah organ tubuh, energi napas disalurkan kepada organ-organ tubuh untuk memberi penguatan. Olah organ tubuh mesti selalu harmoni dengan olah napas. Gerakan tubuh lembut akan dibarengi karakter napas lembut pula. Begitu pula sebaliknya. Untuk pengolahan energi di tangan misalnya, maka pengerasan di tangan dilakukan sambil konsentrasi di tempat yang sama, sedangkan organ lain dikendorkan.

Karena dalam olah napas ada penguatan pada organ tertentu, aliran energi menjadi tidak seimbang dan merata. Karena itu perlu tahapan yang disebut napas penyegaran sebagai sarana penyeimbang. Dengan seimbangnya kembali energi dalam tubuh, tubuh menjadi segar kembali dan penuh vitalitas.

Bisa dilakukan sambil bekerja

Seperti ketika belajar, frekuensi melakukan olah napas juga dua kali seminggu, masing-masing selama 1,5 jam. “Dua kali latihan dengan intensitas penuh sebenarnya sudah cukup untuk meng-cover hidup selama seminggu.” Namun, untuk tujuan penyembuhan penyakit serius, perlu penambahan frekuensi di luar yang biasanya. Umpamanya menjadi 3 atau 4 kali seminggu. Disini kita tidak perlu intensitas penuh. Kalau yang utama perlu waktu 1,5 jam, maka yang tambahan cukup 30 menit, sesuai dengan keadaan.

Dalam kondisi tertentu, olah organ tubuh bisa tidak dilakukan bersamaan dengan olah napas. “Karena arah kita justru seseorang melakukan apa yang dia inginkan berdasarkan kemauannya sendiri. Misalnya, berolah napas dengan duduk sambil bekerja, ya itu bisa terjadi. Jadi latihan ini lama-lama membebaskan orang dari keterikatan gerak, posisi, dan sebagainya. Latihan tidak perlu lagi dilakukan di tempat khusus, dengan waktu khusus. Sambil bekerja pun olah napas bisa dilakukan. Artinya olah napas ini memang untuk membantu hidup kita sehari-hari.”

Jurus-jurusnya pun tidak harus seluruh jurus yang pernah dipelajari. Cukup jurus-jurus yang diperlukan saja. Juga tidak perlu sesuai dengan urutannya. “Sesuai dengan kemauan kita atau kondisi sekitar kita. Jurus yang mengharuskan kita berbaring atau melangkah, tentu tak mungkin dilakukan di kantor saat kita bekerja.” Jurus yang dipilih juga disesuaikan dengan tujuan kita melakukan olah napas. Untuk mengatasi gangguan fungsi ginjal atau pinggang umpamanya, perlu dipilih jurus-jurus yang gerakannya mengarah ke bagian itu. Kuat-lemahnya menarik dan membuang napas juga disesuaikan dengan tujuan berolah napas. Untuk menurunkan tekanan darah tinggi, penarikan dan pelepasan napas harus dengan lembut disertai ekspresi tubuh lentur dan lembut pula. Sebaliknya untuk meningkatkan tekanan darah, penarikan dan pelepasannya kuat dan meletup dengan ekspresi tubuh yang kuat pula. Jadi, “Harus ada harmonisasi antara jenis napasnya, lemah atau kuat, dan ekspresi tubuh dan wajahnya.” Itulah inti dari olah napas.